Ingin kamu pergi

May 13th, 2008

Sebenarnya saat ini terbetik sebuah pertanyaan nakal di benakku:

“Berapa tarif kencan semalam denganmu ?”

Sama sekali tidak bermaksud ingin menukar beberapa lembar uang demi nikmat tubuhmu. Aku cuma mau kamu marah dan pergi tanpa pernah kembali.

Tapi bagaimana kalau ternyata kamu benar-benar mengajukan harga? :roll:

Lucu

May 13th, 2008

Lucu ya? Dulu aku yang heran setengah mati kenapa kamu sama sekali tidak pernah menanyakan tentang diriku, tentang kabarku, tentang kuliahku, atau tentang pekerjaanku. Padahal kita sudah kenal selama berapa lama? Setahun lebih? Ya, dan hanya aku yang selalu menanyakan tentangmu. Itupun dengan jawaban yang singkat. Tapi sudahlah, aku mengerti. Kamu tidak ingin aku mencintaimu.

Dan pagi ini, kamu berkirim pesan menanyakan kabarku setelah beberapa bulan yang lalu kamu memutuskan untuk tidak ingin lagi berurusan denganku. Lalu apa salah kalau aku jawab: “Kabar baik…” ?

Kamu bilang aku sombong. Kupertanyakan itu. Kamu tegaskan, iya, menurutmu aku sombong karena jawabanku pendek sekali dan tidak balas menanyakan kabarmu.

Lucu. Sms-mu pagi ini menyunggingkan senyum tipis di bibirku.

Merindukanmu di antara pucuk daun basah
malam dengan gigil penuh keluh kesah
Hari-hari yang semakin tak dikenal
dan aku ikut mengalir dengannya timbul dan tenggelam

Ketika mata semakin memerah, ketegaran luruh bersama hati yang merapuh

Badai masih berkecamuk dan belum akan berlalu
Dan sisi manusiaku riuh rendah berdesak-desakan keluar
mengalir lewat air mata

Dengan tersengguk-sengguk kuseruput kopi panas di atas meja
Di antaranya membayang wajahmu dalam hitam
namun sebentar saja menghilang ditikam angin malam

Sungguh…
aku rindu pulang
dan berselimut lembut di dekatmu
di antara simpang siur perjalanan

Sebenarnya

May 8th, 2008

Aku tahu

Aku tahu

Aku tahu

Aku tahu

Aku tahu

Aku tahu aku tak mungkin menggapaimu

Karena kau terasa jauh

sekali…

Ketika resah menggelayuti di perjalanan,
mendekatlah…
pelukan ini tempatmu berlabuh
Bisikkan kepadaku
keluh kesah yang terjinjing sepanjang hari
karena belaian ini milikmu
Adakalanya kekacauan mendera hidup
memerahkan binar matamu
Tak mengapa, tangismu akan meresap
di sela peraduan kita
Percayalah…
karena cinta telah mengikat kita