dia bilang tak sengaja
ketika jatuh mengenai pelipis kirimu
tapi aku tau dia berbohong
daun yang masih hijau itu pergi
bersama riak telaga
tak mau mengaku
sementara tatapanku
masih tersandera di pusaran matamu
bisu, kau tersipu di atas perahu
seperti memasrahkan padaku
penyelesaian cinta yang sulit bicara
Bisu
lupa
pria berkata:
rindu pada senjakala
yang merias bumi dengan rona
cikal asmara adalah rampai dari kesan mata dan hati
duh malam, terlalu lekas engkau sampai
sekejap saja akupun tercerai
tak sempat cintaku tumbuh menjulang langit
harus lagi ku menunggu sampai esok terbit
waktu esok terbit dan surya memanjat hingga ke barat
ronanya tak sama seperti yang dijumpainya kemarin
mata lupa pada paras yang sama, hati ragu pada mata yang tertipu
lalu tumbanglah cinta yang akarnya masih terlalu muda
Asmara awal Maret
harmoni simfoni
renda karya gelak tawa
hujan di awal Maret
tersaji bersama ruap kopi dan singkong rebus
bumi berputar kamu berdansa
kita sama-sama terbuai asmara
asmaramu padaku
dan asmaraku padanya
cinta tak harus beresonansi bukan?
Datar
Kamu bisa baca wajahku di sore ini
dalam intonasi yang datar tanpa ekspresi
hatiku sudah kelelahan
tak akan mengkoreksi
baca wajahku hingga titik terakhir
sampai kamu menemu kata bahwa sesungguhnya
aku tidak ingin ada di sini
mati terlindas deru mimpi
naskah
kalau satu demi satu tuts di keyboard ini aku tekan tanpa berpikir sama sekali apa yang akan aku tulis, sekedar mencoba melepaskan beban yang selama ini menindas, akankah menjadi satu cerita yang bisa menceritakan, bisa menjelaskan, dan bisa dirasakan oleh penikmat sebagai suatu rasa yang dialami sendiri?
nantikan aku dengan sabar, sampai khayal dan jemariku mesra seperti dulu. pada saatnya, yang takkan lama lagi, silahkan kamu dan kamu untuk duduk menyaksikan layar panggungku terbuka lagi. lalu bertepuktanganlah seriuh-riuhnya pada babak demi babak. aku pasti kembali!